Total Tayangan Halaman

Minggu, 04 Maret 2012

Jadi ’’Captain of the Game’’ di Hari Bersejarah Sacramento Kings

KEBETULAN sedang liburan keluarga di California, Amerika Serikat. Kebetulan tanggal 1 Maret ada pertandingan menjanjikan, tuan rumah Sacramento Kings melawan salah satu tim paling hot di NBA saat ini: Los Angeles Clippers.

Kebetulan juga, 1 Maret seharusnya menjadi hari menentukan bagi Kings, klub basket di ibu kota negara bagian California tersebut.

Seharusnya, pada 1 Maret, nasib Kings ditentukan oleh NBA. Apakah akan menetap di Sacramento, atau boleh berpindah ke kota lain. Pada hari itu pula, Anaheim di California dan Seattle di Washington siap bergerak untuk merebut dan memindahkan Kings.

Pada 1 Maret, manajemen Kings dan pemerintah kota Sacramento bukan hanya harus punya kesepakatan baru. Mereka harus sudah punya rencana konkret untuk membangun arena pertandingan baru yang sesuai standar modern.

Usangnya Power Balance Pavilion (dulu Arco Arena) memang menjadi pemicu kemungkinan hengkangnya Kings. Arena yang dibangun pada 1985 itu dianggap terlalu kecil (hanya menampung 15 ribuan penonton) dan terlalu minim fasilitas untuk sebuah klub NBA.

Selama setahun terakhir, Sacramento bekerja aktif untuk menyiapkan arena baru. Wali kotanya, mantan bintang NBA Kevin Johnson, bekerja keras untuk mengatur pendanaan bersama keluarga Maloof, pemilik Kings. Warga Sacramento pun bersemangat memberikan dukungan. Mereka tak ingin satu-satunya klub olahraga profesional di kota itu hengkang ke kota lain.

Ternyata, tak sampai 1 Maret, situasi sudah bisa dibilang ’aman’. Seminggu sebelumnya, Pemkot Sacramento, keluarga Maloof, dan NBA telah menemukan kesepakatan. Kings akan tetap di Sacramento, minimal 30 tahun ke depan. Sacramento akan punya stadion baru yang letaknya di tengah-tengah kota pada 2015 nanti.

Ketika Kings menjamu Los Angeles Clip pers Kamis malam lalu (1/3, kemarin WIB), tidak ada lagi ketegangan. Hanya tinggal pemantapan. Sebelum pertandingan, Wali Kota Kevin Johnson sudah mengumumkan program pendanaan gedung baru yang sementara dinamai ’Sacra mento Arena’ tersebut.

Total biayanya adalah USD 391 juta, atau sekitar Rp 3,5 triliun. Di antara total itu, pemerintah kota akan memberikan kontribusi di kisaran USD 255 juta (lebih dari Rp 2 triliun). Caranya, menjual hak sewa parkir di arena dan sekelilingnya kepada pihak swasta. Lalu, menjual sejumlah tanah milik kota. Termasuk di sekeliling Power Balance Pavilion, yang kemungkinan akan ’dihancurkan’ begitu arena baru beroperasi.

Kubu Maloof sebagai pemilik Kings akan memberikan kontribusi di depan senilai USD 73,25 juta. Lalu, perusahaan pengelola arena AEG menambahkan USD 58,75 ju ta. Sisanya didapat dengan menjual program sponsorship. Misalnya, menjual hak nama gedung atau memberikan kesempatan bagi publik untuk meletakkan namanya di batu khusus yang akan di abadikan di arena baru. Nantinya, gedung itu adalah milik pemkot, tapi dioperasikan oleh AEG. Kings meneken kontrak sewa selama 30 tahun.

Nantinya, ada perjanjian pembagian keuntungan bagi AEG, Kings, maupun pemkot.

Secara resmi, kesepakatan itu belum berlaku. Akan ada proses lanjutan di Dewan Kota, yang harus menyetujuinya. Namun, seharusnya sudah tidak ada lagi kendala.

’Kesepakatan bukanlah keputusan akhir, tapi sudah cukup untuk segera menyelesaikannya. Dan, itu yang kami inginkan. Keinginan kami adalah menyelesaikan ini semua dan tetap setia di Sacramento,’ kata George Maloof, salah seorang pemilik tim, sebagaimana dilansir Sacramento Bee.

Captain of the Game

Ketika menonton Kings versus Clippers Kamis malam lalu, suasana pun sudah sangat ceria. Sekitar 80 persen kapasitas Power Balance Pavilion malam itu terpenuhi dan para penonton sangat riuh memberikan dukungan. Membuat suasana lebih mirip dengan sekitar 10–15 tahun lalu, ketika Kings jaya-jayanya.

Malam itu, tim entertainment Sacramen to Kings juga memberikan kejutan. Sebelum pertandingan dimulai, saya dinobatkan sebagai salah satu ’Captain of the Game’. Ketika dua tim sudah bersiap di lapangan, saya –mengajak istri dan anak– diminta ikut ke tengah lapangan. Menjadi saksi ’kesepakatan fair play’ antara tim wasit, kapten Kings (De Marcus Cousins), dan co-captain Clip pers (Chris Paul dan Mo Williams). Bisa dibilang, saya menjadi kapten mewakili para penonton.

Lucu juga…. Apalagi, saat prosesi itu kamera terus mengikuti dan segala yang kami lakukan ditampilkan di layar empat sisi yang menggantung di atas.

Sebelum kembali ke tempat duduk, kami diajak berfoto lebih dulu bersama kapten Kings, Cousins. Saat di tengah lapangan itu, putra saya yang berusia empat tahun, Ayrton, berkali-kali digoda dan menggoda para pemain Kings. Termasuk oleh Cousins, Jimmer Fredette, Jason Thompson, Isaiah Thomas, dan beberapa yang lain.

Prosesi itu semakin membuat komplet pengalaman saya berada di Power Balance Pavilion. Dulu saya diwisuda di gedung ini pada akhir 1999, ketika lulus dari California State University Sacramento. Waktu kuliah, saya sering nonton di kursi termurah (teratas) karena tak punya uang. Lalu, pernah pula menjadi tamu VIP Kings, nonton di pinggir lapangan. Tentu juga pernah menjadi perwakilan media, duduk di boks khusus wartawan. Dan sekarang, menjadi captain of the game.

Sayang, umur gedung ini sudah tidak lama lagi. Untung, yang namanya kenangan akan terus berjalan meski dalam beberapa tahun lagi gedung ini bisa dihancurkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar